WHAT'S NEW?
Loading...
Showing posts with label Pijar Pagi. Show all posts
Showing posts with label Pijar Pagi. Show all posts

Pada dasarnya cara meliput ada tiga macam, seperti pengamatan,  wawancara, dan penelitian dokumen.

Pengamatan
Pewarta  secara  fisik  berada  di  lokasi  kejadian  untuk  menyaksikan dan mengamati suatu peristiwa secara langsung. Gunakan seluruh panca   indera (mata, hidung, telinga, kulit, dan lidah) untuk merasakan  peristiwa yang terjadi di depan mata. Sebagai contoh, jika sedang meliput pe perangan, gambarkan bagaimana situasinya, seperti suara bom yang meledak,  pasukan yang gigih bertempur, dan penduduk yang ketakutan. Jelaskan semuanya dan hindari penilaian subjektif dengan menggunakan kata sifat, misalnya cantik, gagah, dan lain sebagainya.

Dalam melakukan pengamatan, pewarta harus fokus pada peristiwa yang akan diliputnya. Temukan intisari dari peristiwa yang terjadi. Jangan tergoda untuk mengamati peristiwa lainnya karena akan mengacaukan konsentrasi sehingga pengamatan menjadi tidak maksimal. Di sinilah arti penting dari garis besar liputan karena membuat proses liputan tetap fokus.

Namun, ada kalanya pewarta tidak sempat membuat garis besar liputan karena tiba-tiba ditugaskan untuk meliput peristiwa yang terjadi mendadak. Jika ini terjadi, setelah melakukan pengamatan, segera   putuskan sudut   pandang (angle) beritanya. Bila kita sudah memiliki sudut pandang, maka kita akan memunyai panduan, fakta-fakta apa saja yang harus kita amati dan kumpulkan, misalnya, Anda meliput peristiwa penggusuran, sudut pandang apa yang Anda pilih: kebijakan pemerintah untuk mempercantik kota atau dimensi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan pemerintah kota terhadap rakyat miskin.

Catat atau rekam semua peristiwa itu selengkap mungkin. Jangan hanya mengandalkan ingatan saja karena kecapaian fisik saat liputan membuat pewarta mudah lupa. Apalagi jika membuat liputan  panjang, ketika  peristiwa demi peristiwa datang silih berganti. Semakin rinci seorang pe warta mencatat peristiwa yang disaksikannya biasanya   makin me mudahkan ia dalam menulis berita. Dari pelbagai pen galaman, kesulit  an menulis  berita terjadi karena pe warta tidak  lengkap dalam mengamati dan mencatat   peristiwa yang disaksikannya.

Wawancara
Dalam melakukan liputan, setiap pewarta hampir pasti melakukan  wawancara. Wawancara adalah proses tanya-jawab antara pewarta dan   narasumber untuk menggali fakta psikologis, seperti apa yang dialami, apa yang dilihat, atau apa pendapat maupun harapan seseorang berkaitan dengan suatu peristiwa.

Wawancara selalu dilakukan terhadap sejumlah pihak yang terkait dengan sebuah peristiwa yang kita liput. Misalnya pada peristiwa penggusuran pedagang kaki lima, ada pihak yang menggusur (Satuan Polisi Pamong Praja), ada pihak yang digusur (pedagang kaki lima), dan pembeli atau warga sekitar kejadian. Wawancara perlu dilakukan untuk memperoleh fakta yang lengkap tentang suatu peristiwa   seperti penggusuran.

Saat wawancara, pewarta biasanya akan menanyakan tiga hal  kepada nara-sumbernya, yaitu kesaksiannya atas peristiwa yang terjadi, atribut, dan pendapat narasumber. Kesaksian dari narasumber yang jadi saksi mata suatu peristiwa sangat penting karena pewarta belum tentu menyak sikan peristiwa itu secara langsung.

Sedangkan atribut diperlukan untuk memberikan gambaran pada pembaca siapa dan di mana narasumber peristiwa terjadi. Atribut juga mem-berikan gambaran tentang kelayakan narasumber untuk men jelaskan peristiwa. Atribut yang umum digunakan adalah nama, usia, jabatan, dan hubungan nya dengan peristiwa. Dalam peristiwa peng gusuran pewarta bisa   menyebut kan atribut sebagai berikut:
Sarwono (45), Komandan Satuan Polisi Pamong Praja   Kabupaten Sleman
Mia (56), Pedagang Nasi Gudeg Lesehan
Rifki (24), Pelanggan Nasi Gudeg
Pendapat narasumber bisa berbentuk opini, harapan, dan kesaksian mata. Semua itu dapat digali saat wawancara, misalnya pada  peristiwa  peng gusuran, kita bertanya kepada Satpol PP, mengapa mereka melakukan penggusuran. Kepada para pedagang yang digusur, apa pendapatnya soal penggusuran ini, sedangkan kepada pembeli gudeg kita juga bisa bertanya (karena dia ada di tempat saat peristiwa terjadi) bagaimana Satpol PP melakukan penggusuran itu, apakah menggunakan tindak kekerasan atau tidak.

Penelitian Dokumen
Untuk melengkapi sebuah hasil liputan, pewarta biasanya juga melengkapi dengan melakukan riset atau penelitian dokumen yang berkaitan  dengan peristiwa yang diliput. Penelitian dokumen di gunakan untuk men-dapatkan fakta tertulis, baik berupa angka   (jumlah, besaran),   tabel, bagan, maupun teks (tulisan, surat perjanjian, surat keputusan). Fakta seperti ini akan memperjelas atau sebagai bukti pendukung dalam pengungkapan peris tiwa. Liputan   investigasi atau liputan mendalam biasanya selalu  menggunakan  teknik penggalian data ini.

Misalnya ketika membuat liputan soal korupsi dana rekonstruksi  pasca gempa bumi di Yogyakarta (2006). Untuk membuktikan korupsi itu,  jurnalis mencari bukti tertulis (kwitansi) adanya pemotongan yang  dilakukan aparat desa terhadap warga penerima bantuan uang dari pemerintah. Uang ini untuk membangun kembali rumahnya yang rusak akibat gempa bumi.Tidak semua dokumen bisa digunakan begitu saja, misalnya, data ber bentuk tabel perlu diinterpretasikan lebih dahulu. Pada dokumen teks perlu diperhatikan sumbernya, untuk melihat apakah dokumen itu sah atau tidak. Untuk mendapatkan dokumen ini, pewarta harus menempuh jalur yang etis, misalnya pewarta tidak boleh mendapatkan dokumen  dengan cara mencuri.

Dikutip dari:
"Pewarta Warga"
penulis:
YOSSY SUPARYO
BAMBANG MURYANTO
COMBINE Resource Institution
2011

Peliputan adalah proses penting dalam membuat berita. Lantas fakta (baik sosiologis dan psikologis) yang   seperti apakah yang harus dikumpulkan oleh seorang pewarta sebagai bahan membuat berita?
Dalam jurnalisme warga, suatu berita harus memenuhi unsur-unsur berita, yang akrab disingkat dengan 5W + 1H + 1S. Yaitu, Who (siapa),  What (apa),  When (kapan),  Where (di mana),  Why (mengapa) +  How  (mengapa) dan Solusi (jalan keluar). Nah, fakta-fakta yang dikumpulkan harus dapat memenuhi unsur-unsur berita ini.
Apa yang terjadi? (What)
Jelaskan peristiwa apa yang terjadi secara gamblang. Peristiwa harus rinci, hindari penyebutan peristiwa yang bersifat umum. Contoh:
Kecelakaan lalu-lintas û
Sepeda motor menabrak sepeda  ü

Siapa saja yang terlibat dalam peristiwa? (Who)
Dapatkan nama lengkap dari orang-orang yang terlibat dan apa jabatan-nya. Jangan lupa cek ejaannya untuk ketelitian. Contoh:
Soekarno apa Sukarno
Dandi apa Dandy
Sumawikarta apa Sumowikarto

Kapan peristiwa terjadi? (When)
Catatlah hari dan waktu terjadinya peristiwa secara rinci. Contoh:
Senin, 17 Januari 2009 pukul 15.30 ü
Senin, 17 Januari 2009 sore û

Di mana peristiwa terjadi? (Where)
Dapatkan lokasi kejadian dan gambarkanlah. Contoh:
Timbulharjo, Sewon, Bantul
Karangbajo, Bayan, Lombok Utara
Mengapa atau apa sebab peristiwa terjadi? (Why)
Carilah data penyebab kejadian secara lengkap. Pewarta harus bertanya kepada narasumber yang paham atas peristiwa itu.

Bagaimana peristiwa terjadi? (How )
Dalam bagian ini pewarta harus dapat menemukan fakta yang men-jelaskan bagaimana suatu peristiwa terjadi. Biasakan membuat catatan urutan  peristiwa atau kronologisnya. Bagian "bagaimana" ini biasanya menjadi porsi terbesar yang harus dijawab saat pewarta menjalankan tugas investigasi.

Jalan Keluar (Solusi)
Unsur solusi atau jalan keluar penting diperhatikan karena inti pewartaan warga bukan sekadar mengabarkan, tetapi mencari jalan keluar yang ber-pihak pada warga. Pewartaan warga mendorong ke  terlibatan warga dalam penyelesaian-penyelesaian permasalahan yang terjadi.
Berita biasanya mengandung informasi yang menjawab ketujuh per-tanyaan di atas. Setiap fakta yang diperoleh sebagai jawaban atas salah satu pertanyaan tersebut sebaiknya selalu diuji kelayakannya oleh pewarta,  misalnya ada peristiwa kecelakaan. Informasi semacam itu tidak jelas, sebab menimbulkan pertanyaan baru, kecelakaan apa? Kalau dijawab kecelakaan lalu-lintas, masih kurang jelas, kecelakaan lalu-lintas apa? Lebih informatif kalau jawaban yang diperoleh adalah tabrakan bus dan sepeda motor atau bus menyerempet sepeda motor.

Diambil dari:
"Pewarta Warga"
penulis:
YOSSY SUPARYO
BAMBANG MURYANTO
COMBINE Resource Institution
2011


1.       Mengumpulkan fakta
Peliputan adalah salah satu kegiatan jurnalistik yang paling penting. Dengan melakukan liputan, para pewarta pergi ke lapangan untuk mencari dan mengumpulkan fakta, baik yang dia saksikan sendiri maupun yang tidak. 

Fakta adalah ‘bahan mentah’ yang akan dimasak menjadi berita. Jadi, peliputan adalah proses ketika pewarta  mengumpulkan fakta-fakta yang berkaitan dengan suatu peristiwa yang akan diberitakannya.Apakah fakta itu? Fakta adalah suatu peristiwa yang terjadi dan dapat  diperiksa atau dibuktikan bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi,  misalnya, fakta tentang pohon tumbang. Kita dapat membuktikan ada sebuah pohon besar yang tumbang dan melintang di jalan sehingga membuat lalu lintas macet. 
Dengan indera kita, kita dapat membuktikan kebenarannya, itulah fakta.
Dalam dunia jurnalisme, ada dua fakta.  Pertama,  fakta sosiologis. Ini menunjuk kepada suatu peristiwa atau fakta yang kebenarannya   dapat dibuktikan melalui panca indera kita, misalnya, Gunung Merapi meletus. Kita dapat membuktikan kebenarannya dengan mendengar suara letusannya, menyaksikan hujan abu, melihat pemukiman  warga yang rusak tersapu awan panas dan lain sebagainya. Kecelakaan lalu lintas, gempa bumi, korupsi, kerusakan lingkungan adalah fakta sosiologis.

Kedua,  fakta psikologis. Fakta psikologis adalah fakta yang isi nya berupa pendapat atau kesaksian seseorang tentang suatu   peristiwa atau isu, mis -alnya, pendapat seorang pakar politik tentang situasi politik di Indonesia menjelang Pemilu 2014, atau kesaksian dari seorang saksi mata tentang bagaimana suatu peristiwa pe  rampokan terjadi.

Dalam meliput suatu peristiwa, pewarta biasanya akan mengumpulkan fakta sosiologis dan psikologis sebagai bahan untuk membuat berita. Mengapa? Tidak ada pewarta yang dapat melihat seluruh fakta sosiologis secara utuh, pasti ada bagian tertentu yang tidak diketahuinya. Kedua, pewarta  tidak selalu bisa menyaksikan kejadian suatu peristiwa sosiologis. Pewarta terkadang baru menyaksikan ketika peristiwa itu sudah terjadi dan hanya dapat melihat jejak-jejaknya saja.
Untuk  menyusun cerita, ia perlu fakta psikologis dari seorang saksi mata yang melihat peristiwa itu secara langsung. Ini berguna untuk menyajikan   berita selengkap  mungkin. Jadi, ketika membuat berita soal fakta sosiologis, pewarta pasti akan mengumpulkan fakta psikologis pula.

Contoh: ada kecelakaan kereta api di sebuah stasiun di Pemalang yang terjadi pada dini hari. Saat kejadian tentu saja tidak ada pewarta yang nongkrong di stasiun itu untuk menunggu peristiwa itu terjadi. Tidak ada seorang pun yang tahu peristiwa itu akan terjadi, kecuali jika kebetulan ada pewarta yang sedang berada di stasiun itu.Dini hari, sebuah kereta api penumpang menabrak kereta api penumpang lainnya yang tengah berhenti di Stasiun Pemalang. Informasi kejadian ini pun menyebar, salah satunya ke telinga pewarta yang  kemudian datang untuk meliputnya.
Sang pewarta tidak tahu bagaimana peristiwa itu terjadi. Namun, ia dapat melihat jejak-jejaknya, kereta api penumpang yang rusak. Mungkin ia juga menyaksikan bagaimana para penumpang yang terluka atau meninggal, dampak dari kecelakaan itu, jadwal perjalanan kereta api yang tertunda, dan lain sebagainya. Ini semua adalah fakta sosiologis.Namun ia tidak tahu bagaimana kecelakaan itu terjadi. Untuk menjelaskan kepada publik bagaimana peristiwa itu, ia perlu melakukan wawancara dengan masinis, saksi mata yang melihat peristiwa itu secara langsung, kepala stasiun setempat, Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), dan sumber lainnya yang sesuai. Ini semua adalah fakta psikologis.

Ada kalanya pula, seorang pewarta hanya membuat berita berdasarkan fakta psikologis saja, misalnya ketika seorang pewarta membuat wawancara panjang dengan seorang tokoh besar yang bercerita tentang pemikirannya, pendapatnya tentang persoalan yang sedang terjadi, dan soal kehidupannya. Hampir semua pakar jurnalistik sepakat bahwa tugas utama pe warta  adalah melaporkan fakta sosiologis, seperti korupsi, kerusakan lingkungan, kemiskinan, dan biaya pendidikan yang mahal dan lain sebagainya yang memunyai kaitan erat dengan kepentingan publik. Sedangkan fakta  psikologis tidak menjadi bagian yang paling penting. Ia hanya berguna untuk mendukung fakta sosiologis saja.

Di Indonesia, hasil peliputan yang berisi fakta psiokologis saja, di  ejek sebagai ‘jurnalisme katanya’ atau ‘jurnalisme ludah’. Celakanya, ini menjadi porsi terbesar dari berita yang dimuat pelbagai media massa di Indonesia, misalnya, berita soal pernyataan pejabat tinggi seperti bupati, kepala dinas atau gubernur tentang sesuatu saat meng hadiri acara tertentu. Bisa juga ulasan pakar tentang suatu kejadian, padahal seharusnya pewarta melaporkan kejadian itu bukan ulasannya. Maraknya dialog di televisi berita kita adalah contoh nyata dari kecenderungan ini.
Saat berada di lapangan, pewarta harus mengumpulkan fakta   sebanyak mungkin. Mata dan telinga harus dibuka lebar-lebar   untuk menyerap seluruh fakta yang berkaitan dengan sebuah peristiwa. Ibarat di pasar, kita harus belanja sebanyak mungkin agar dapat memasak aneka macam makanan.  Jika pewarta mampu ‘belanja’ fakta sebanyak mungkin maka ia dapat ‘memasak’ aneka macam berita dengan sudut pandang ( angle) yang tajam.

Ketika mengumpulkan fakta sosiologis dan psikologis, pewarta harus bersikap  skeptis —tidak mudah percaya terhadap seluruh fakta yang diperolehnya (Ishwara, 2005:2). Semua fakta harus diverifikasi secara ketat untuk mendapat kebenaran paling hakiki. Pewarta perlu me lakukan cek dan ricek untuk memastikan kebenaran fakta-fakta yang diperolehnya.

Selain itu, ketika mencari fakta psikologis, pewarta harus menemui narasumber yang tepat dan sesuai untuk memberikan pernyataan sesuai  dengan peristiwa yang sedang diliput. Untuk contoh kasus di atas, nara-sumber yang tepat dan berwenang memberikan pernyataan adalah masinis kereta api yang mengalami kecelakaan, saksi mata yang melihat langsung kejadian itu, dan lain-lain.
Ketika seluruh fakta sudah diperoleh, tahap selanjutnya adalah menulis berita. Memang karena keterbatasan tempat dan durasi (waktu) mungkin tidak semua fakta dapat masuk dalam berita. Pilih fakta-fakta yang paling penting dan sesuai saja.

Diambil dari:
"Pewarta Warga"
penulis:
YOSSY SUPARYO
BAMBANG MURYANTO
COMBINE Resource Institution
2011

Tanpa dukungan dokumentasi, pelbagai peristiwa akan cepat terlupakan. Tanpa ada sejarah, warga dapat jatuh ke ‘lubang’ yang sama. Jurnalisme siswa merupakan metode mendokumentasikan peristiwa lokal sehingga menjadi penjaga ingatan agar warga bersikap kritis terhadap pelbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya. Meminjam istilah filsuf Milan Kundera, jurnalisme warga adalah politik memelihara ingatan dan melawan  lupa
Siswa sebagai konsumen media cenderung memiliki informasi global dibanding informasi lokal. Mereka mampu menyebutkan gosip artis di televisi dibanding kegiatan OSIS. Sejumlah simulasi
yang dilakukan menunjukkan sebagian besar warga mulai acuh dengan lingkungannya. 
Jurnalisme Sekolah mengajak warga sekolah menengok kembali pengetahuan-pengetahuan yang dekat dengan lingkungan mereka. Melalui Mading Pijar Pagi, banyak khasanah lokal muncul ke ruang publik, mulai dari Acara kelas, kesenian, budaya, dan gagasan-gagasan baru. Pewarta siswa juga mendorong keragaman isi dalam informasi siswa.

Sebelum pewarta pergi ke lapangan untuk melakukan tugas liputan, ia harus melakukan pelbagai persiapan. Sebab tanpa melakukan persiapan, pewarta akan bingung di lapangan dan tidak tahu harus mengumpulkan fakta apa. Saat berada dalam suatu peristiwa, banyak pewarta yang  bingung dan bertanya kepada temannya, apa pentingnya atau sudut pandang apa yang paling menarik untuk ditulis?

Untuk menghindari persoalan di atas, pewarta perlu melakukan pelbagai persiapan.
A.      Menjadi pewarta menuntut kita untuk selalu belajar sesuatu yang baru. Memang tidak  perlu sangat mendalam, tetapi ada baiknya kita tahu soal-soal yang mendasar dalam pelbagai topik, misalnya politik, ekonomi,  budaya, sosial, pe  rubahan iklim. Untuk ini, pewarta harus rajin membaca, sebab membaca itu ibarat bensin yang akan memberikan energi sehingga kita dapat lancar menulis. Apalagi saat ini,   pengetahuan-pengetahuan baru cepat   muncul, pewarta harus selalu  update ! Dengan memiliki banyak pengetahuan maka kita tidak akan ‘blank’ sama sekali saat meliput pelbagai   peristiwa berbeda  setiap hari. Setidaknya, kita tahu, aturan-aturan dasar berkaitan dengan  peristiwa yang kita liput.

B.      Jika kita memiliki waktu dan tahu persoalan khusus yang akan kita liput, sempatkan membuat penelitian kecil-kecilan untuk men-dalami persoalan itu. Kita bisa bertanya   kepada ‘Paman Google’. Dengan berbekal ini, maka kita dapat mengetahui latar   peristiwa sehingga dapat menuntun kita dalam bertanya kepada narasumber dan memilih sudut pandang yang tepat. Percaya atau tidak, saat wawancara banyak pertanyaan dari pewarta yang dimentahkan narasumber. Karena si pewarta salah bertanya akibat tidak memunyai pengetahuan sedikit pun soal peristiwa yang diliputnya.


C.      Membuat garis besar liputan (outline ) adalah langkah penting sebelum meliput. Garis besar liputan membantu pewarta  untuk fokus pada penelusuran sumber utama peristiwa.  Outline  terutama penting untuk membuat liputan  panjang, misalnya liput an mendalam dan  laporan investigasi.

D.      Siapkan peralatan. Untuk melakukan liputan, pewarta harus membawa peralatan yang di  butuhkan, misalnya, buku tulis untuk  mencatat dan tentu saja alat tulisnya. Cek  apakah buku tulis dan alat tulisnya masih dapat digunakan. Selanjutnya alat perekam,  kamera, dan   kamera video. Periksa apakah semua masih berfungsi dan pastikan   batereinya belum habis. Alat perekam suara sangat   penting, apalagi untuk meliput  peristiwa  konflik.  Dengan  alat  perekam,  kita punya bukti kuat andai berita kita dipersoalkan.


E.       Jika melakukan liputan di suatu tempat yang jauh, siapkan pula perbekalan, terutama air minum. Baterei handphone juga harus  penuh supaya siap digunakan, terutama   bila terjadi situasi darurat. Kalau melakukan peliputan di wilayah konflik, baca kembali prinsip-prinsip cara meliput yang aman, agar tetap aman dan dapat menulis berita atau jangan lupa bawa  kartu   identitas dan kartu pers.

Diambil dari:"Pewarta Warga" penulis: YOSSY SUPARYOBAMBANG MURYANTOCOMBINE Resource Institution2011

Setiap pewarta mengetahui tidak semua peristiwa layak diberitakan. Ada ukuran yang harus dipenuhi supaya suatu peristiwa layak diberitakan. Ukuran layak atau tidaknya suatu peristiwa diberitakan disebut dengan kelayakan berita.
Pada pertemuan pewarta Suara Komunitas di Yogyakarta (17-19 Desember 2009) para pewarta menyepakati hanya peristiwa publik yang boleh di  sebarluaskan. Peristiwa publik adalah peristiwa yang memiliki ke  terkaitan dengan kepentingan khalayak umum, seperti  bencana alam, kecelakaan lalu-lintas akibat jalan yang rusak, kenaikan harga bahan pokok, dan  penyebaran  penyakit  yang  berbahaya. Lawan kata dari peristiwa publik adalah peristiwa privat. Peristiwa privat tidak berhubungan dengan kepentingan publik, peristiwa   privat menyangkut rahasia pribadi seseorang, perselisihan dalam keluarga, dan lain sebagainya. Hubungan suami-istri adalah masalah privat. Namun, bila suami melakukan penyekapan, pemukulan, dan kekerasan terhadap istrinya, maka peristiwa privat itu berubah men jadi peristiwa publik. Pemukulan merupakan tindakan yang digolongkan pidana atau melawan hukum. Meskipun urusan berita berkaitan dengan kepentingan publik,  namun tidak semua peristiwa publik layak diberitakan. Suatu peristiwa  layak diberitakan bila mengandung nilai berita.
Secara umum  sebuah   peristiwa dianggap memiliki nilai berita bila mengandung unsur kedekatan, berakibat pada banyak orang, kebaruan, sisi kemanusiaan, besaran, dan pengembangan diri.
1.       Kedekatan
Peristiwa yang terjadi di lokasi yang dekat dengan khalayak pembaca perlu diberitakan. Kedekatan peristiwa bisa diukur secara fisik maupun emosional. Kedekatan fisik diukur dari jarak geografis dan mungkin bisa dirasakan secara langsung oleh pembaca. Sedangkan kedekatan emosional diukur melalui hubungan ke tertarikan, minat, dan kepedulian. Kedekatan emosional bisa mengabaikan jarak geografis. Biasanya kedekatan jenis ini  terbentuk karena persamaan, ke setiakawanan, kepercayaan, kebudayaan, kesukuan, profesi, minat, dan kepentingan.
KEDEKATA
PENJELASAN
Jarak
Kebakaran yang terjadi di Pasar Cikurubuk, bagi pewarta Radio Style FM, Tasikmalaya, memiliki lebih memenuhi   kriteria kedekatan dibanding kebakaran yang menimpa sebuah pasar swalayan di Jakarta.
Emosional
Peristiwa merti dusun lebih layak  di  berit  akan di  banding dengan kunjungan presiden untuk meresmi  kan proyek pembangunan. Kunjungan   presiden jelas mendapatkan porsi besar dalam media massa arus utama, sementara merti  dusun jarang mendapatkan ruang karena tidak
di  lakukan atau melibatkan tokoh yang terkenal.

2.       Berakibat Pada Banyak Orang
Peristiwa yang menimbulkan dampak pada banyak orang layak diberita -kan. Kenaikan harga bahan bakar minyak, pemberlakuan undang-  undang perpajakan yang baru, dan peristiwa lain yang memiliki dampak langsung pada masyarakat banyak penting diberitakan. Selain itu, kejadian yang mengancam kehidupan manusia, seperti  tindak kekerasan, bencana alam, dan penyakit juga layak diberitakan.
Dampak
Penjelasan
Fisik
Peristiwa kecelakaan, kebocoran reaktor nuklir,  wabah penyakit, banjir, penggusuran, dan lain-lain.
Ekonomi
Peristiwa kemiskinan, kenaikan bahan bakar minyak, pemutusan hubungan kerja, kenaikan harga, nilai tukar rupiah, penjualan aset negara, dan lain-lain.
Budaya
Peristiwa upacara adat, dialog antarbudaya, kola  borasi pertunjukan, dan lain-lain.
Sosial
Peristiwa  diskriminasi  keagamaan,  konflik  sosial,  dan lain-lain.
Psikis
Peristiwa trauma, kecemasan, teror, konflik, dan lain-lain.

3.       Kebaruan
Peristiwa yang baru terjadi atau suatu temuan baru   penting disebarluaskan. Namun kriteria peristiwa baru bisa berbeda-beda tergantung periode terbit media, seperti harian, mingguan, dwi mingguan, dan  bulanan. Peristiwa dua hari yang lalu tidak memiliki nilai kebaruan bagi media harian, namun media mingguan atau bulanan bisa menganggapnya baru.
Peristiwa lampau juga dapat dianggap baru apabila ia memiliki ke  terkaitan erat dengan kondisi kekinian, misalnya pemberitaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 tidak dapat dilepaskan dari peristiwa Pemilu 2004 dan Pemilu 1999. Ketiganya memiliki hubungan erat, yaitu Pemilu yang diselenggara-kan setelah lengsernya kepemimpinan rezim Soeharto.
4.       Sisi kemanusian
Suatu peristiwa yang mampu menyentuh perasaan manusia biasanya sangat layak diberitakan. Peristiwa yang memancing empati biasanya menyangkut orang biasa dalam situasi luar biasa. Maksud dari pembuat an berita ini adalah untuk mengajak para pembaca untuk berempati atau menarik suatu pelajaran kemanusiaan yang penting dari subjek berita.
Di Suara Komunitas ada berita berjudul "Guwono Butuh Uluran Tangan" (11/8/2008), yang mendapat perhatian luas. Berita itu mencerita kan semangat seorang remaja miskin asal Dukuh Kalicilik RT 07/3, Desa Kalitengah, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara, yang men -derita lumpuh. Guwono tak bisa sekolah sebab ia harus me rangkak. Padahal sekolah terdekat berjarak 1,5 kilometer, itupun melewati jalan yang naik-turun karena melewati perbukitan.
Kisah Guwono mengilhami pembuatan film dokumenter Impian Guwono yang berhasil masuk nominasi Festival Video Komunitas (FVK) Kawanusa Award 2008 di Tabanan, Bali. Film itu merupakan produksi pertama Kelompok Video Komunitas Gardu Parkir (VKGP) Desa Merden, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegar
5.       Besaran
Kejadian yang menyangkut angka-angka yang berarti bagi kehidupan banyak orang. Begitu juga dengan kejadian yang dari segi jumlah sangat menarik perhatian publik. Misalnya, kecelakaan bus yang menyebabkan 50 orang penumpangnya tewas, layak diberitakan. Berita ini lebih layak dari kecelakaan sebuah mobil masuk jurang dan me newaskan dua orang penumpangnya.
Suatu berita tidak harus memenuhi semua kriteria di atas. Namun, semakin banyak nilai yang melekat dalam suatu peristiwa, maka nilai  beritanya makin tinggi, misalnya, peristiwa meletusnya Gunung Merapi yang menewaskan ratusan orang, menyebabkan bencana   banjir lahar dingin, dan menghancurkan mata pencaharian ribuan penduduk adalah sebuah peristiwa yang memenuhi semua nilai berita.
6.       Pengembangan Diri
Peristiwa yang menambah pengetahuan pembaca untuk memperbaiki kedudukan ekonomi atau sosial, semacam peluang akibat perkembangan perdagangan, peluang lapangan pekerjaan, atau petunjuk untuk menambah pendapatan.
Sebagai contoh, berita tentang berternak  belut di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, mendapat apresiasi besar dari pembaca. Tulisan Triadi Widianto itu ber cerita  tentang inisiatif para pemuda desanya berternak belut dan cara berternak belut yang dilakukan kelompok pemuda tersebut. Unsur pengembang an diri penting agar dunia pewartaan mendorong pembacanya untuk mencoba hal baru,  mengembangkan  pengetahuan, ke  terampilan, dan kemampuan untuk belajar secara mandiri.

Diambil dari:
"Pewarta Warga"
penulis:
YOSSY SUPARYO
BAMBANG MURYANTO
COMBINE Resource Institution
2011